
Ujian Nasional atau stress nasional?
Ujian Nasional, untuk apa engkau diciptakan?
Ujian Nasional kembali mendatangi para siswa di
seluruh Indonesia, jutaan anak anak bangsa sedang
mengalami perasaan was-was, khawatir, cemas,
sebagaimana yang kita lihat dan dengar dari berita berita
diberbagai media. Hajat tahunan bangsa ini kembali siap menelan korban yang menangis, sedih, kecewa, bahkan pernah saya jumpai ada anak yang sampai berbulan bulan malu untuk keluar rumah -gara gara tidak lulus Ujian Nasional-.
Peristiwa yang saya lihat tersebut mungkin satu dari banyak peristiwa yang terjadi akibat dampak buruk makhluk yang bernama UN, saya juga sangat mengkhawatirkan fenomena yang menimpa para caleg kita juga akan kembali menyambangi para anak anak bangsa, generasi yang diharapkan akan mewarnai negeri tercinta ini.
Saya kira para petinggi negeri ini perlu meninjau kembali aturan tentang UN, kalaupun toh takut ketinggalan dengan negara lain mungkin caranya juga tidak harus meng-Ujian Nasinal-kan anak anak, lantas caranya bagaimana? saya yakin para petinggi negara punya solusi yang lebih bagus, karena mereka orang orang yang berilmu dan punya hati nurani tentunya.
Okelah, mungkin tulisan diatas sudah dianggap basi oleh para pembaca, namun ada sisi lain Ujian Nasional yang mungkin belum begitu terdeteksi oleh para pembuat keputusan, sehingga bagaimanapun keadaannya UN harus tetap diadakan, padahal sisi inilah yang kemudian berakibat fatal bagi keberlangsungan pendidikan generasi bangsa ini.
Pertama, ada trend bahwa sekolah yang bisa meluluskan siswanya 100% adalah “dianggap” sekolah yang hebat, berkualitas tinggi, guru gurunya profesional dan seabreg julukan lagi.
Kedua, trend peringkat antar daerah dari hasil Ujian Nasional, sehingga daerah saling berlomba untuk mendapat nomor urut kecil.
Ketiga, banyak sekolah yang tidak tega melihat anak didiknya yang telah dididik selama tiga tahun dengan susah payah ternyata gagal hanya karena hal yang tidak begitu prinsip untuk bekal kehidupannya, yaitu UN.
Ketiga hal inilah yang kemudian oleh sebagian sekolah dimaknai negatif, yaitu
bagaimana caranya supaya siswanya lulus 100%, sehingga cara cara yang digunakan adalah cara cara negatif, yaitu memberi jawaban kepada siswa!!.
Apapun alasannya hal ini jelas tidak terpuji, baik dari segi etika ataupun akhlak ;
a. Apa gunanya siswa dilatih kejujuran selama tiga tahun kalaupun toh akhirnya gurunya sendiri yang memulai untuk bertindak tidak jujur, bahkan tidak hanya gurunya saja namun sebuah “tim sukses” yang melibatkan hampir semua unsur disekolah, mulai dari Kepala Sekolah sampai penjaga…hem.
b. Apa gunanya siswa diberi les, pelajaran tambahan, try out, bahkan sampai doa bersama, kalaupun toh ujung ujungnya mereka akan diberi bocoran jawaban
c. Jangan heran bila suatu saat nanti di negeri tercinta ini akan dipenuhi oleh para pejabat yang tukang menipu, karena dari kecilnya mereka telah “dicetak” dengan mesin penipu, yaitu dari asal sekolah mereka. Mereka lulus secara bohong bohongan, dan hasilnya?
d. Tujuan pendidikan menjadi luntur, dimana bangsa kita yang konon selalu
mengedepankan moral, etika orang timur, beragama, beradab, tidak akan terlihat lagi didalam dunia pendidikan, padahal untuk mencapai semua itu, pendidikanlah sebagai ujung tombaknya.
Lantas muncul pertanyaan, siapa biang keladinya?
Hal hal negatif tersebut tidak akan pernah terjadi jika makhluk yang bernama UN tidak ada, karena bagaimanapun keadaannya jika sekolah berhak menentukan kelulusan tanpa terpengaruih nilai pelajaran UN pasti tiap sekolah akan berbiat yang terbaik untuk para siswanya, tidak dengan cara seperti ini. Hal negatif tersebut juga tidak akan pernah terjadi jika para petinggi bangsa ini yang mempunyai kekuasaan untuk membuat peraturan dan undang undang masih mempunyai pikiran yang baik yang bersumber dari hati yang bersih. Karena tidak mungkin kita menanam ilalang akan tumbuh padi…..
Melalui tulisan ini saya berharap banyak dibaca oleh orang orang yang masih peduli terhadap dunia pendidikan untuk bertindak, jangan biarkan persoalan Ujian Nasional ini akan membawa dampak yang lebih buruk kepada generasi bangsa kita.
Dan satu lagi yang perlu kita ingat ; seandainya kita mengadakan Ujian Nasional hanya karena kita merasa tertinggal dengan bangsa lain, kenapa kita tidak pernah berfikir, bagaimana caranya agar seluruh bangsa di dunia ini yang mengejar bangsa Indonesia? Dan sampai kapanpun kita tidak mungkin akan bisa mengejar bangsa lain, karena bangsa yang kita kejar, tentunya mereka sendiri juga berlari….
mantap